NusantaraBaru.co.id | Kuala Lumpur – International Nusantara Cultural Forum (INCAF) dan lebih dari 10 NGO Melayu Raya menjajaki kerja sama dengan Yayasan Angkatan Muda Bumi Anoa Indonesia (AMBA INDONESIA) untuk mengembangkan pendidikan budaya dan pariwisata berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
Kemitraan tersebut diarahkan untuk memperkuat pelestarian warisan sejarah Mia Patamiana, mengembangkan sumber daya manusia berbasis budaya lokal, serta memperluas hubungan kebudayaan dan ekonomi kreatif di kawasan Melayu Raya.
Ketua Umum Yayasan AMBA INDONESIA, Stenly Diover, mengatakan Kepulauan Buton, yang dikenal sebagai Negeri Darul Butuni, memiliki hubungan historis dengan rumpun Melayu Nusantara. Menurut dia, keterkaitan sejarah tersebut dapat menjadi landasan bagi kerja sama lintas negara, khususnya dalam pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia.
“Gagasan kerja sama ini merupakan bagian dari sinergi lintas negara di kawasan ASEAN, khususnya dalam penguatan dan pembangunan sumber daya manusia berbasis akar budaya lokal,” kata Stenly.
Penjajakan kerja sama dilakukan melalui koordinasi antara Stenly dan President of INCAF, Puan Datin Seri Mayya, yang juga memimpin Koperasi Warisan Seni Budaya Malaysia Berhad dan terlibat dalam sejumlah inisiatif hubungan strategis dan ekonomi.
Mayya menyambut positif rencana kemitraan tersebut. Pembahasan mengenai kerangka dan keputusan resmi kerja sama dijadwalkan berlangsung dalam Konferensi INCAF 2027 di Kuala Lumpur pada Mei tahun depan.
Yayasan AMBA INDONESIA, melalui lembaga Bumi Anoa Nusantara Institute, diproyeksikan menjadi mitra dalam pengembangan program pendidikan dan kebudayaan di Sulawesi Tenggara.
Inisiatif ini juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh adat dan organisasi kebudayaan, termasuk perwakilan masyarakat Minangkabau, Suku Pakpak di Sumatera Utara, dan Aceh.
Di antara tokoh yang menyatakan dukungan adalah M. Rafik Datuk Rajo Kuaso, tokoh adat Minangkabau sekaligus Sekretaris Jenderal Majelis Adat Indonesia; Farel Edward Lingga dari Yayasan Suku Pakpak Nusantara; serta Khairan Husaini M., S.E., tokoh masyarakat Aceh.
Para penggagas berharap kerja sama tersebut dapat memperkuat jaringan kebudayaan di kawasan ASEAN sekaligus membuka peluang bagi pengembangan pariwisata berbasis warisan sejarah, ekonomi kreatif, dan pelestarian tradisi lokal.
Namun, rincian program, pembagian peran, pendanaan, dan target pelaksanaan kerja sama masih perlu dirumuskan sebelum kemitraan tersebut ditetapkan secara resmi.

