NusantaraBaru, Jakarta – Kenaikan pangkat Brigjen Pol. Ibrahim Tompo, S.I.K., M.Si., dan menjadi pengajar di Lemhannas adalah refleksi atas dedikasi, integritas, dan gaya kepemimpinan yang menjembatani institusi kepolisian dengan masyarakat luas, terutama insan media.
Dalam dunia yang kerap kali diwarnai ketegangan antara otoritas dan publik, kehadiran tokoh seperti Brigjen Ibrahim menjadi oase.
Sosoknya dikenal luas di kalangan jurnalis sebagai pemimpin yang responsif, terbuka, dan menjunjung prinsip komunikasi dua arah.
Tak heran, pengangkatan sebagai tenaga pemgajar di Lemhannas ini disambut hangat oleh berbagai pihak, termasuk dari komunitas media.
Atas nama seluruh tim media nusantarabaru.co.id, kami mengucapkan selamat atas promosi jabatan Bapak sebagai tenaga pengajar di Lemhannas. Semoga amanah ini membawa kemajuan bagi institusi dan bangsa, ujar Farel Edward Lingga, Pemimpin Umum Nusantara Baru.
Ucapan serupa disampaikan Lukman Hakim, Pemimpin Redaksi media tersebut, yang menilai Brigjen Ibrahim sebagai figur yang memahami dinamika dan peran strategis pers dalam demokrasi.
Jejak Kepemimpinan di Humas Daerah
Rekam jejak Brigjen Ibrahim di bidang kehumasan Polri bukan hal baru.
Sejak memimpin Bidang Humas di Polda Sulawesi Utara (2016–2019) dan Sulawesi Selatan (2019–2020), ia dikenal aktif membangun dialog dengan wartawan dan masyarakat.
Namun, sorotan paling terang datang saat dirinya memimpin Divisi Humas Polda Jawa Barat.
Di wilayah tersebut, ia dinilai berhasil memperkuat sinergi antara institusi kepolisian dan media lokal.
Tak hanya menyediakan informasi secara terbuka, ia juga mendorong perkembangan media digital dengan semangat kolaboratif.
Pendekatan ini berdampak langsung terhadap meningkatnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Ia bukan hanya juru bicara, tapi penghubung antara institusi dan nurani publik, ungkap seorang jurnalis senior di Jawa Barat yang pernah meliput di bawah masa kepemimpinannya.
Transparansi dan Adaptasi di Era Digital
Di tengah tantangan komunikasi publik era digital—yang sarat disinformasi dan tekanan opini—Brigjen Ibrahim justru tampil sebagai representasi adaptasi Polri yang cerdas dan humanis.
Ia membuktikan bahwa kehumasan bukan hanya soal citra, tapi tentang membangun kepercayaan.
Kedekatannya dengan media bukan hasil dari pencitraan, melainkan dari konsistensi sikap: terbuka, mudah dihubungi, dan bertanggung jawab atas setiap pernyataan yang disampaikan.
Kini, dengan amanah baru sebagai tenaga pengajar di Lemhannas, Brigjen Ibrahim akan memberi pengetahuan dan pengajaran tentang menavigasi tantangan komunikasi di tingkat nasional.
Bekal pengalaman regional dan jejaring media yang luas menjadi keunggulan tersendiri yang dinilai akan memperkuat transparansi institusi dan meningkatkan kredibilitas Polri di mata masyarakat.

Lebih dari Sekadar Pangkat
Pengangkatan Brigjen Ibrahim adalah simbol dari arah baru kehumasan Polri—yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berpihak pada kepentingan publik.
Ia membawa warisan kepemimpinan yang tidak sekadar struktural, tetapi juga moral dan sosial.
Dalam pesan singkatnya kepada rekan media, Ibrahim menekankan pentingnya sinergi, kejujuran, dan inovasi dalam membangun hubungan Polri dengan masyarakat.
Kita tidak bisa membangun kepercayaan tanpa mendengar. Dan kita tidak bisa didengar jika tidak hadir bersama masyarakat, tuturnya dalam salah satu pertemuan dengan wartawan tempo lalu.
Sebagai figur publik dan pemimpin institusional, Brigjen Ibrahim Tompo telah menjadi teladan bagi banyak insan pers dan aparat penegak hukum.
Promosinya hari ini bukan akhir, melainkan awal dari tugas yang lebih besar: memulihkan, menjaga, dan membangun kepercayaan publik—satu interaksi jujur pada satu waktu.


