Jakarta, nusantarabaru – Tanaman jagung masih menjadi prioritas utama dalam program Riset Inovasi (Risnov) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain sebagai sumber pangan, jagung juga berperan penting untuk pakan ternak dan bahan baku industri sehingga dianggap strategis dalam menopang pengembangan agribisnis nasional.
Hal itu disampaikan Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, dalam acara Teras-TP #3 bertema “Pengelolaan Patogen Utama Tular Tanah dan Produksi Benih Bermutu dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Jagung Nasional” yang digelar Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN pada tempo lalu.
“Harapannya, peningkatan produksi jagung dapat membawa kita pada swasembada yang berkelanjutan. Itu poin yang kita tekankan. Namun, secara fakta, masih banyak kendala, termasuk adopsi penuh pengelolaan tanaman terpadu. Kita harus mencari solusinya,” ujar Puji.
Diskusi juga menyoroti pentingnya produksi benih jagung bermutu sebagai salah satu langkah strategis dan inovatif.
Dalam forum itu, BRIN menggandeng kalangan swasta untuk mendukung deteksi hingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan produksi jagung.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira, menambahkan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menetapkan target peningkatan produksi jagung nasional dengan program khusus untuk padi dan jagung.
“Jagung walaupun masih ada impor, jumlahnya terbatas. Bahkan, masih ada potensi ekspor ketika panen raya. Hanya saja, gejolak harga tetap terasa ketika produksi menurun,” katanya.
Dibandingkan dengan padi, produksi jagung nasional relatif lebih stabil.
Namun, kebutuhan akan peningkatan kualitas benih dan adopsi teknologi menjadi kunci agar produktivitas bisa lebih optimal sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.


